Menu Utama
Random Image
Tidak Ada Gambar
Terbaru
Statistics
Anggota: 5
Berita: 72
Link Web: 5
Partner
Paradigma Sehat Dalam Islam
Ditulis Oleh Ar_Risalah   
Friday, 07 August 2009

PARADIGMA SEHAT DALAM ISLAM

Oleh : Neneng Bisyaroh

 

 

Kitab suci Al-Qur’an merupakan sumber pedoman, bimbingan, dan kekuatan bagi kaum muslim di seluruh penjuru di dunia. Melalui Al-Qur’an, islam membimbing manusia menuju hidup sehat baik lahir maupun batin.  Tidak sedikit hadis-hadis Nabi Muhamad yang mengandung nilai-nilai medis. Yang selanjutnya mempengaruhi perkembangan ilmu kedokteran Islam.

 

Berpedoman kepada Al-Qur’an dan al-sunah, Islam membimbing manusia menuju hidup sehat, yaitu prilaku takwa berupa prilaku yang ditandai ketaatan kepada sang Pencipta sebagai konseo kesehatan Islami. Islam menolak praktek kesehatan apapun yang bertentangan dengan ajaran islam. Misalnya memohon bantuan dengan benda yang dianggap keramat atau oarng ang memiliki kekuatan sedangkan amalan-amalannya bertentangan dengan ajaran Islam.

 

            Pengertian kesehatan tidak dijumpai dalam al-Qur’an, walaupun hal ini tidak berarti bahwa al-Quran tidak mementingkan masalah kesehatan. Al-quran kelihatanya tidak ingin terlibat dalam perdebatan dalam pengertian kata-kata, melainkan lebih menukik kepada sebab-sebab yang dapat menimbulkan kesehatan, seperti perintah makan dan minum yang halal dan baik, tidak berlebihan, tidak memabukkan, dll.

 

Demikian pula kata ‘afiyah tidak dijumpai dalam al-qur’an. Melainkan terdapat dalam hadis Nabi yang artinya: “ Ya Alloh perkayalah diriku dengan ilmu, hiasilah diriku dengan ketakwaan dan percantiklah diriku dengan kesehatan yang sempurna”.

Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), merumuskan kesehatan sebagai “Kesehatan jasmani, ruhaniah, dan social yang dimiliki manusia sebagai karunia Allah yang wajib disyukuri dengan mengamalkan tuntunan-Nya, memelihara, serta mengembangkannya. 

Kata-kata sehat selanjutnya menjadi sifat atau keadaan yang menyangkut kesehatan secara universal. Yaitu bukan hanya kesehatan jasmani dan rohani saja, melainkan juga kesehatan social (masyarakat).  Penjelasan secara rinci dapat diuaraikan sbb:

 

·          KESEHATAN JASMANI

Kesehatan jasmani dan fisik merupakan keadaan yang sangat penting dalam mendukung seluruh kegiatan. Pelaksanaan ibadah dalam Islam seperti salat, puasa, dan ibadah haji hanya dapat dikerjakan dengan sempurna apabila keadaan jasmani dalam keadaan sehat. Kesehatan jasmani erat kaitannya dengan mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal dan baik, yaitu makanan dan minuman yang selain secara hukum dinyatakan boleh dimakan dan diminum, juga harus dalam keadaan baik (thayib), yang dalam penilitian ahli kesehatan terkait dengan makanan yang mengandung gizi dan kalori menurut penilian ahli kesehatan.

            Dalam ajaran islam upaya memelihara kesehatan jasmani dan fisik ini terkait dengan ajaran tentang bersuci (thaharah) seperti penggunaan air yang bersih dan mensucikan untuk keperluan memasak, minum, mandi, berwudhu,dan sebagainya, ketentuan barang-barang yang dinilai sebagai najis, kotor, dan menjijikkan, mandi, berwudhu, istinja’, buang air, tayamum, mencuci pakaian, tempat dan lingkungan.

Ajaran tentang thaharah yang terkait dengan pelaksanaan berbagai ibadah dalam islam yang demikian detail dan mendalam itu, selain ditujukan untuk persyaratan ibadah agar dianggap sah secara hukum, tetapi juga agar timbul budaya, sikap hidup dan kepribadian yang mencintai dan peduli terhadap kebersihan dalam arti seluas-luasnya.

Upaya memelihara kesehatan jasmani dan fisik ini diikuti pula dengan ketentuan adanya sejumlah barang-barang yang dilarang untuk dikonsumsi. Seperti, bangkai, anjing, babi, air seni (urine), dll. Dengan demikian, tampak bahwa ajaran islam sangat mementingkan kesehatan jasmani dan fisik yang dilakukan dengan cara memelihara kebersihan makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan seterusnya yang secara keseluruhan terintegrasi dalam pelaksaan ibadah.

 

·          KESEHATAN ROHANI

Kesehatan jasmani dan fisik dalam ajaran islam memiliki hubungan yang erat dengan kesehatan yang bersifat rohaniah. Orang yang sedang sakit gigi misalnya, menyebabkan pikiran dan perasaannya terganggu, takut jika penyakitnya tidak dapat disembuhkan. Demikian pula orang yang terganggu kesehatan rohaninya seperti tergoncang jiwanya akibat mendapatkan musibah atau dihadapkan pada berbagai permasalahan yang menyebabkan tidak nafsu makan, badan lemas, dan pada akhirnya sakit.

            Al-Qur’an banyak berbicara tentang penyakit jiwa. Mereka yang lemah iman dinilai sebagai orang yang memiliki penyakit di dalamnya dadanya. Penyakit- penyakit kejiwaan pun beraneka ragam dan bertingkat-tingkat. Sikap angkuh, benci, dendam, fanatisme, antaralain disebabkan karena bentuk keberlebihan seseorang. Sedangkan rasa takut, cemas, pesisme, rendah diri, dll adalah karena kekurangannya.

           


·          KESEHATAN SOSIAL

       Hidup bermasyarakat dalam arti seluas-luasnya adalah merupakan salah satu naluri manusia. Ia tidak bisa dan tidak mungkin mampu hidup sendirian. Berdasarkan petunjuk Al-Qur’an dan hadis, kita menjumpai ajaran etika bermasyarakat tersebut antara lain ajaran tolong-menolong, saling menasehati, menghormati, saling asah, asuh, dan asih.

 

Ajaran islam tentang perlunya membangun masyarakat yang sehat dapat pula dari hampir seluruh misi, hikmah, dan pesan ang terdapat dalam ajaran ibadah dalam islam. Salat misalnya, dapat ditujukan agar mampu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Zakat ditujukan untuk menunjukkan kepedulian social, dll.

 

Dalam tinjauan ilmu fiqh, kesehatan sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai kebersiahan dan kemaslahatan yang diperoleh ole kita. Beberapa ajaran dan tuntunanan tersebut mengandung kajian dan nilai-nilai kedokteran, antara lain:

 

§   Cara bersuci yang diajarkan Nabi

§   Larangan kencing di air tergenang

§   Sunah untuk berkhitan

§   Perintah memotong kuku, membersihkan bulu ketiak, dan kemaluan

§   Kewajiban mandi selepas bersetubuh

§   Keharusan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan

 

             Sedangkan dalam tinjauan tasawuf, dengan adanya kesehatan pada jasmani, maka kita akan dapat laksanakan ibadah dengan khusyu’ tanpa adanya keluhan rasa sakit. Serta juga tidak menghalangi aktifitas ibadah yang akan kita laksanakan.

            

             Dalam tinjauan akhlaq, rohani dan jiwa yang sehat akan membebaskan diri kita dari segala penyakit hati, seperti dengki, iri hati, dll.  Kesehatatan rohani dapat kita latih dengan menerapkan sifat-sifat terpuji yang telah diajarkan oleh nabi kepada kita.

 

 

 

 

 

 

 

 

 
< Sebelumnya